Kamis, Juni 09, 2011

Pendidikan Matematika Realistik


Realistic Mathematic Education (RME) atau Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia (PMRI)

Disusun Oleh :

Akhmad Mukhlas Riady, S.Pd

      Pembelajaran matematika realistik adalah padanan Realistic Mathematics Education (RME), sebuah pendekatan pembelajaran matematika yang dikembangkan Freudenthal di Belanda. Gravemeijer (1994: 82) mengungkapkan Realistic mathematics education is rooted in Freudenthal’s interpretation of mathematics as an activity.Ungkapan Gravemeijer di atas menunjukkan bahwa pembelajaran matematika realistic dikembangkan berdasar pandangan Freudenthal yang menyatakan matematika sebagai suatu aktivitas. Lebih lanjut Gravemeijer (1994: 82) menjelaskan bahwa yang dapat digolongkan sebagai aktivitas tersebut meliputi aktivitas pemecahan masalah, mencari masalah dan mengorganisasi pokok persoalan. Menurut Freudenthal aktivitas-aktivitas itu disebut matematisasi.
       Terkait dengan konsep pembelajaran matematika realistik di atas Gravemeijer (1994: 91) menyatakan : Mathematics is viewed as an activity, a way of working.
Learning mathematics means doing mathematics, of which solving everyday life problem is an essential part. Gravemeijer menjelaskan bahwa dengan memandang matematika sebagai suatu aktivitas maka belajar matematika berarti bekerja dengan matematika dan pemecahan masalah hidup sehari-hari merupakan bagian penting dalam pembelajaran.
Konsep lain dari pembelajaran matematika realistik dikemukakan Treffers (dalam Fauzan, 2002: 33 – 34) dalam pernyataan berikut ini: “The key idea of RME is that children should be given the opportunity to reinvent mathematics under the guidance of an adult (teacher). In addition, the formal mathematical knowledge can be developed from children’s informal knowledge”.
Dalam ungkapan di atas Treffers menjelaskan ide kunci dari pembelajaran matematika realistik yang menekankan perlunya kesempatan bagi siswa untuk menemukan kembali matematika dengan bantuan orang dewasa (guru). Selain itu disebutkan pula bahwa pengetahuan matematika formal dapat dikembangkan (ditemukan kembali) berdasar pengetahuan informal yang dimiliki siswa.
       Pernyataan-pernyataan yang dikemukakan di atas menjelaskan suatu cara pandang terhadap pembelajaran matamatika yang ditempatkan sebagai suatu proses bagi siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan matematika berdasar pengetahuan informal yang dimilikinya.
Dalam pandangan ini matematika disajikan bukan sebagai barang “jadi” yang dapat dipindahkan oleh guru ke dalam pikiran siswa.
      
Terkait dengan aktivitas matematisasi dalam belajar matematika, Freudenthal (dalam Panhuizen, 1996: 11) menyebutkan dua jenis matematisasi yaitu matematisasi horisontal dan vertikal dengan penjelasan seperti berikut ini: “Horizontal mathematization involves going from the world of life into the world of symbol, while vertical mathematization means moving within the world of symbol”.
Pernyataan di atas menjelaskan bahwa matematisasi horisontal menyangkut proses transformasi masalah nyata/
sehari-hari ke dalam bentuk simbol. Sedangkan matematisasi vertikal merupakan proses yang terjadi dalam lingkup simbol matematika itu sendiri. Contoh matematisasi horisontal adalah pengidentifikasian, perumusan dan pemvisualisasian masalah dengan cara-cara yang berbeda oleh siswa. Sedangkan contoh matematisasi vertikal adalah presentasi hubungan-hubungan dalam rumus, menghaluskan dan menyesuaikan model matematika, penggunaan model-model yang berbeda, perumusan model matematika dan penggeneralisasian.
Mengacu kepada dua jenis kegiatan matematisasi di atas de Lange (1987: 101) mengidentifikasi empat pendekatan yang dipakai dalam mengajarkan matematika, yaitu pendekatan mekanistik, empiristik, strukturalistik dan realistik. Pengkategorian keempat pendekatan tersebut didasarkan pada penekanan atau keberadaan dua aspek matematisasi (horisontal atau vertikal) dalam masing-masing pendekatan tersebut, seperti yang tergambar dalam Tabel 2.1. di bawah.
Tabel 2. 1 Matematisasi horisontal dan vertikal
dalam pendekatan-pendekatan matematika
Jenis Pendekatan
Matematika Horizontal
Matematika Vertikal
Mekanistik
-
-
Empristik
+
-
Strukturalistik
-
+
Realistik
+
+
Tanda “+” berarti perhatian besar yang diberikan oleh suatu jenis “-pendekatan terhadap jenis matematisasi tertentu, sedangkan tanda “  berarti kecil atau tidak ada sama sekali tekanan suatu jenis pendekatan terhadap jenis matematisasi tertentu. Berdasar hal ini tampak bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik memberi perhatian yang cukup besar, baik pada kegiatan matematisasi horisontal maupun vertikal jika dibandingkan dengan tiga pendekatan yang lain.
         Esensi lain pembelajaran matematika realistik adalah tiga prinsip kunci yang dapat dijadikan dasar dalam merancang pembelajaran.
Gravemeijer (1994: 90) menyebutkan tiga prinsip tersebut, yaitu (1) guided reinvention and progressive mathematizing (2) didactical phenomenology dan (3) self-developed models.
1.  Guided reinvention and progressive mathematizing. Menurut Gravemijer (1994: 90), berdasar prinsip reinvention, para siswa semestinya diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama dengan proses saat matematika ditemukan.
Sejarah matematika dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi dalam merancang materi pelajaran. Selain itu prinsip reinvention dapat pula dikembangkan berdasar prosedur penyelesaian informal. Dalam hal ini strategi informal dapat dipahami untuk mengantisipasi prosedur penyelesaian formal. Untuk keperluan tersebut maka perlu ditemukan masalah kontekstual yang dapat menyediakan beragam prosedur penyelesaian serta mengindikasikan rute pembelajaran yang berangkat dari tingkat belajar matematika secara nyata ke tingkat belajar matematika secara formal (progressive mathematizing)
2. Didactical phenomenology. Gravemeijer (1994: 90) menyatakan, berdasar prinsip ini penyajian topik-topik matematika yang termuat dalam pembelajaran matematika realistik disajikan atas dua pertimbangan yaitu (i) memunculkan ragam aplikasi yang harus diantisipasi dalam proses pembelajaran dan (ii) kesesuaiannya sebagai hal yang berpengaruh dalam proses progressive mathematizing.
3. Self-developed models, Gravemeijer (1994: 91) menjelaskan, berdasar prinsip ini saat mengerjakan masalah kontekstual siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan model mereka sendiri yang berfungsi untuk menjembatani jurang antara pengetahuan informal dan matematika formal. Pada tahap awal siswa mengembangkan model yang diakrabinya. Selanjutnya melalui generalisasi dan pemformalan akhirnya model tersebut menjadi sesuatu yang sungguh-sungguh ada (entity) yang dimiliki siswa.
Untuk kepentingan di tingkat operasional, tiga prinsip di atas selanjutnya dijabarkan menjadi lima karakteristik pembelajaran matematika sebagai berikut ini. Karena hal ini maka beberapa di antara karakteristik berikut ini akan
muncul dalam pembelajaran matematika. Menurut Soedjadi (2001: 3) pembelajaran matematika realistik mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut:
1. Menggunakan konteks, artinya dalam pembelajaran matematika realistik lingkungan keseharian atau pengetahuan yang telah dimiliki siswa dapat dijadikan sebagai bagian materi belajar yang kontekstual bagi siswa.
2. Menggunakan model, artinya permasalahan atau ide dalam matematika dapat dinyatakan dalam bentuk model, baik model dari situasi nyata maupun model yang mengarah ke tingkat abstrak.
3. Menggunakan kontribusi siswa, artinya pemecahan masalah atau penemuan konsep didasarkan pada sumbangan gagasan siswa.
4. Interaktif, artinya aktivitas proses pembelajaran dibangun oleh interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan lingkungan dan sebagainya.
5. Intertwin, artinya topik-topik yang berbeda dapat diintegrasikan sehingga dapat memunculkan pemahaman tentang suatu konsep secara serentak.
Dengan mengkaji secara mendalam prinsip dan karakteristik pembelajaran matematika realistik tampak bahwa pendekatan ini dikembangkan berlandaskan pada filsafat kontruktivisme. Paham ini berpandangan bahwa pengetahuan dibangun sendiri oleh orang yang belajar secara aktif. Penanaman suatu konsep tidak dapat dilakukan dengan mentransferkan konsep itu dari satu orang ke orang lain. Tetapi seseorang yang sedang belajar semestinya diberi keleluasaan dan dorongan untuk mengekspresikan pikirannya dalam mengkonstruk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri. Aktivitas ini dapat terjadi dengan cara memberikan permasalahan kepada siswa. Permasalahan tersebut adalah permasalahan yang telah diakrabi siswa dalam kehidupannya. Sebagai akibat dari peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika realistik adalah berkurangnya dominasi guru. Dalam pendekatan ini guru lebih berfungsi sebagai fasilitator.
A. Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik
Meninjau karakteristik interaktif dalam pembelajaran matematika realistik di atas tampak perlu sebuah rancangan pembelajaran yang mampu membangun interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan lingkungannya. Dalam hal ini, Asikin (2001: 3) berpandangan perlunya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkomunikasikan ide-idenya melalui presentasi individu, kerja kelompok, diskusi kelompok, maupun diskusi kelas. Negosiasi dan evaluasi sesama siswa dan juga dengan guru adalah faktor belajar yang penting dalam pembelajaran konstruktif ini.
Implikasi dari adanya aspek sosial yang cukup tinggi dalam aktivitas belajar siswa tersebut maka guru perlu menentukan metode mengajar yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan tersebut. Salah satu metode mengajar yang dapat memenuhi tujuan tersebut adalah memasukkan kegiatan diskusi dalam pembelajaran siswa. Aktivitas diskusi dipandang mampu mendorong dan melancarkan interaksi antara anggota kelas. Menurut Kemp (1994: 169) diskusi adalah bentuk pengajaran tatap muka yang paling umum digunakan untuk saling tukar informasi, pikiran dan pendapat. Lebih dari itu dalam sebuah diskusi proses belajar yang berlangsung tidak hanya kegiatan yang bersifat mengingat informasi belaka, namun juga memungkinkan proses berfikir secara analisis, sintesis dan evaluasi. Selanjutnya perlu pula ditentukan bentuk diskusi yang hendak dilaksanakan dengan mempertimbangkan kondisi kelas yang ada. Karena pembelajaran dalam rangka penelitian ini dilaksanakan dalam sebuah kelas yang pada umumnya beranggotakan 40 sampai 44 siswa dengan penempatan siswa yang sulit untuk membentuk kelompok diskusi besar, maka interaksi antar siswa dimunculkan melalui diskusi kelompok kecil secara berpasangan selain diskusi kelas.
        Mendasarkan pada kondisi kelas seperti uraian di atas serta beberapa karakteristik dan prinsip pembelajaran matematika realistik, maka langkah-langkah pembelajaran yang dilaksanakan dalam penelitian ini terdiri atas:
Langkah – 1. Memahami masalah kontekstual
Pada langkah ini guru menyajikan masalah kontekstual kepada siswa. Selanjutnya guru meminta siswa untuk memahami masalah itu terlebih dahulu.
Karakteristik pembelajaran matematika realistik yang muncul pada langkah ini adalah menggunakan konteks. Penggunaan konteks terlihat pada penyajian masalah kontekstual sebagai titik tolak aktivitas pembelajaran siswa.
Langkah – 2. Menjelaskan masalah kontekstual.
Langkah ini ditempuh saat siswa mengalami kesulitan memahami masalah kontekstual. Pada langkah ini guru memberikan bantuan dengan memberi petunjuk atau pertanyaan seperlunya yang dapat mengarahkan siswa untuk memahami masalah.
Karakteristik pembelajaran matematika realistik yang muncul pada langkah ini adalah interaktif, yaitu terjadinya interaksi antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa. Sedangkan prinsip guided reinvention
setidaknya telah muncul ketika guru mencoba memberi arah kepada siswa dalam memahami masalah.
Langkah – 3. Menyelesaikan masalah kontekstual.
Pada tahap ini siswa didorong menyelesaikan masalah kontekstual secara individual berdasar kemampuannya dengan memanfaatkan petunjuk-petunjuk yang telah disediakan. Siswa mempunyai kebebasan menggunakan caranya sendiri. Dalam proses memecahkan masalah, sesungguhnya siswa dipancing atau diarahkan untuk berfikir menemukan atau mengkonstruksi pengetahuan untuk dirinya. Pada tahap ini dimungkinkan bagi guru untuk memberikan bantuan seperlunya (scaffolding) kepada siswa yang benar-benar memerlukan bantuan.
Pada tahap ini , dua prinsip pembelajaran matematika realistik yang dapat dimunculkan adalah guided reinvention and progressive mathematizing dan self-developed models. Sedangkan karakteristik yang dapat dimunculkan adalah penggunaan model. Dalam menyelesaikan masalah siswa mempunyai kebebasan membangun model atas masalah tersebut.
Langkah – 4. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban
Pada tahap ini guru mula-mula meminta siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban dengan pasangannya. Diskusi ini adalah wahana bagi sepasang siswa mendiskusikan jawaban masing-masing. Dari diskusi ini diharapkan muncul jawaban yang dapat disepakati oleh kedua siswa. Selanjutnya guru meminta siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban yang dimilikinya dalam diskusi kelas. Pada tahap ini guru menunjuk atau memberikan kesempatan kepada pasangan siswa untuk mengemukakan jawaban yang dimilikinya ke muka kelas dan mendorong siswa yang lain untuk mencermati dan menanggapi jawaban yang muncul di muka kelas.
Karakteristik pembelajaran matematika realistik yang muncul pada tahap ini adalah interaktif dan menggunakan kontribusi siswa. Interaksi dapat terjadi antara siswa dengan siswa juga antara guru dengan siswa. Dalam diskusi ini kontribusi siswa berguna dalam pemecahan masalah.
Langkah – 5. Menyimpulkan
Dari hasil diskusi kelas guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan mengenai pemecahan masalah, konsep, prosedur atau prinsip yang telah dibangun bersama.
Pada tahap ini karakteristik pembelajaran matematika realistik yang muncul adalah interaktif serta menggunakan kontribusi siswa.

B. Teori Belajar yang Relevan dengan Pembelajaran Matematika Realistik
Seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya, pembelajaran matematika realistik dikembangkan dengan mengacu dan dijiwai oleh filsafat konstruktivis. Sedangkan menurut Soedjadi (1999: 156) kontruktivisme di bidang belajar dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan yang dikembangkan sejalan dengan teori psikologi kognitif. Inti dari konstruktivisme dalam bidang belajar adalah peranan besar yang dimiliki siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan yang bermakna bagi dirinya. Sedangkan guru memposisikan diri lebih sebagai fasilitator belajar. Beberapa teori belajar kognitif yang dipandang relevan dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik adalah teori Piaget, teori Vygotsky, teori Ausubel dan teori Bruner.
1. Teori Piaget
Piaget (dalam Ibrahim, 1999:16) berpandangan bahwa, anak-anak memiliki potensi untuk mengembangkan intelektualnya. Pengembangan intelektual mereka bertolak dari rasa ingin tahu dan memahami dunia di sekitarnya. Pemahaman dan penghayatan tentang dunia sekitarnya akan mendorong pikiran mereka untuk membangun tampilan tentang dunia tersebut dalam otaknya. Tampilan yang merupakan struktur mental itu disebut skema atau skemata (jamak). Suparno (1997: 30) menggambarkan skema sebagai suatu jaringan konsep atau kategori. Dengan menggunakan skemanya, seseorang dapat memproses dan mengidentifikasi suatu rangsangan yang diterimanya sehingga ia dapat menempatkannya pada kategori/ konsep yang sesuai.
Piaget menyatakan bahwa prinsip dasar dari pengembangan pengetahuan seseorang adalah berlangsungnya adaptasi pikiran seseorang ke dalam realitas di sekitarnya. Proses adaptasi ini tidak terlepas dari keberadaan skema yang dimiliki orang tersebut serta melibatkan asimilasi, akomodasi dan equiliberation dalam pikirannya (Suparno,1997: 31). Asimilasi adalah proses kognitif yang dengannya seseorang dapat mengintegrasikan persepsi, konsep atau pengalaman baru ke dalam skema yang dimilikinya. Melalui asimilasi, skema seseorang berkembang namun tidak berubah. Dengan demikian perkembangan skema seseorang berarti terjadinya pengayaan persepsi dan pengetahuan seseorang atas dunia sekitarnya. Karena itu asimilasi dapat dipandang sebagai proses yang dilakukan individu untuk mengadaptasikan dan mengorganisasi diri ke dalam lingkungannya sehingga pengertianya berubah.
Proses kognitif asimilasi tidak selalu dapat dilakukan seseorang . Hal ini terjadi jika rangsangan baru yang diterimanya tidak sesuai dengan skema yang dimilikinya. Jika hal ini terjadi, maka akan dilakukan proses
akomodasi. Melalui proses akomodasi, pikiran seseorang akan membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan tersebut atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan tersebut (Suparno, 1997: 32).
Dalam mengembangkan pengetahuannya, proses asimilasi dan akomodasi terus berlangsung dalam diri seseorang. Keduanya terjadi tidak berdiri sendiri. Kedua proses ini berlangsung dalam keseimbangan yang diatur secara mekanis. Proses pengaturan keseimbangan ini disebut equilibrium (Suparno, 1997: 32). Namun dalam menerima suatu pengalaman baru dapat terjadi suatu keadaan sedemikian hingga terjadi ketidakseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Keadaan ini disebut sebagai dissequilibrium. Ketidakseimbangan ini muncul pada saat terjadi ketidaksesuaian antara pengalaman saat ini dengan pengalaman baru yang mengakibatkan akomodasi. Jika terjadi ketidakseimbangan maka seseorang dipacu untuk mencari keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Menurut Dahar (1991: 182) seseorang yang mampu memperoleh kembali keseimbangannya akan berada pada tingkat intelektual yang tinggi dari sebelumnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Teori Piaget memandang kenyataan atau pengetahuan bukan sebagai objek yang memang sudah jadi dan ada untuk dimiliki manusia, namun ia harus diperoleh melalui kegiatan konstruksi oleh manusia sendiri melalui proses pengadaptasian pikirannya ke dalam realitas di sekitarnya..
Lebih lanjut Piaget (dalam Atkinson, 1999: 96) menjelaskan bahwa dalam tahap-tahap perkembangan intelektualnya seorang anak sudah terlibat dalam proses berpikir dan mempertimbangkan kehidupannya secara logis. Proses berpikir tersebut berlangsung sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Agar perkembangan intelektual anak berlangsung optimal maka mereka perlu dimotivasi dan difasilitasi untuk membangun teori-teori yang menjelaskan tentang dunia sekitarnya (Ibrahim, 1999: 19). Berkaitan dengan upaya ini Piaget (dalam Ibrahim, 1999:18) berpendapat bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang melibatkan anak bereksperimen secara mandiri, dalam arti:
a. Mencoba segala sesuatu untuk melihat apa yang terjadi.
b. Memanipulasi tanda dan simbol
c. Mengajukan pertanyaan
d. Menemukan jawaban sendiri
e. Mencococokan apa yang telah ia temukan pada suatu saat dengan apa yang ia temukan pada saat yang lain
f. Membandingkan temuannya dengan temuan orang lain.
Pembelajaran matematika realistik merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang sejalan dengan pandangan Piaget di atas. Pembelajaran matematika realistik yang dikembangkan dengan berlandaskan pada filsafat konstruktivis, memandang pengetahuan dalam matematika bukanlah sebagai sesuatu yang sudah jadi dan siap diberikan kepada siswa, namun sebagai hasil konstruksi siswa yang sedang belajar. Karena itu, dalam pembelajaran matematika realistik siswa merupakan pusat dari proses pembelajaran itu sendiri, sedangkan guru berperan lebih sebagai fasilitator. Implikasi dari pandangan ini adalah keharusan bagi guru untuk memfasilitasi dan mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Siswa harus didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan bagi dirinya. Untuk keperluan tersebut maka siswa perlu mendapat keleluasaan dalam mengekspresikan jalan pikirannya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya.
Untuk mewujudkan situasi dan kondisi belajar yang demikian maka dalam mengelola pembelajaran guru perlu memperhatikan beberapa pandangan Piaget. Diantaranya adalah guru perlu mendorong siswa untuk berani mencoba berbagai kemungkinan cara untuk memahami dan menyelesaikan masalah. Dalam ini aktivitas mengkonstruksi pengetahuan oleh siswa diwujudkan dengan memberikan masalah kontekstual. Masalah kontekstual tersebut dirancang sedemikian hingga memungkinkan siswa untuk membangun pengetahuannya secara mandiri.
2. Teori Vygotsky
Matthews dan O’Loughlin (dalam Suparno, 1997: 41) berpendapat bahwa teori Piaget dikembangkan dengan penekanan yang lebih pada aspek personal. Teori ini dipandang terlalu subjektif dan kurang sosial, sehingga faktor masyarakat dan lingkungan kurang diperhatikan dalam proses pengembangan intelektual seorang anak.
Berbeda dengan Piaget, Vygotsky (dalam Ibrahim, 1999: 18) berpendapat bahwa proses pembentukan dan pengembangan pengetahuan anak tidak terlepas dari faktor interaksi sosialnya. Melalui interaksi dengan teman dan lingkungannya, seorang anak terbantu perkembangan intelektualnya. Pandangan Vygotsky tentang arti penting interaksi sosial dalam perkembangan intelektual anak tampak dari empat ide kunci yang membangun teorinya.
a. Penekanan pada hakikat sosial
Ide kunci pertama ini menjelaskan pandangan Vygotsky tentang arti penting interaksi sosial dalam proses belajar
anak. Vygotsky (dalam Nur, 1999: 3) mengemukakan bahwa anak belajar melalui interaksi dengan orang dewasa atau teman sebayanya. Dalam proses belajar yang demikian, seorang anak yang sedang belajar tidak hanya menyampaikan pengertiannya atas suatu masalah kepada dirinya sendiri namun ia juga dapat menyampaikannya pada orang lain di sekitarnya. Pembelajaran kooperatif yang terjalin oleh intraksi sosial peserta belajar memberi manfaat berupa hasil belajar yang terbuka untuk seluruh siswa dan proses berpikir siswa lain terbuka untuk siswa yang lain.
b. Wilayah perkembangan terdekat (zone of proximal development).
Vygotsky menjelaskan adanya dua tingkat perkembangan intelektual, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Pada tingkat perkembangan aktual seseorang sudah mampu untuk belajar atau memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan yang ada pada dirinya pada saat itu. Sedangkan tingkat perkembangan potensial adalah tingkat perkembangan intelektual yang dicapai seseorang dengan bantuan orang lain yang lebih mampu. Tingkat perkembangan potensial terletak di atas tingkat perkembangan aktual seseorang. Perubahan dari tingkat perkembangan aktual menuju ke tingkat perkembangan potensial tidak terjadi secara langsung dan otomatis. Perubahan itu berlangsung dengan melalui proses belajar yang terjadi pada wilayah perkembangan terdekat. Wilayah perkembangan terdekat terletak sedikit di atas perkembangan aktual seseorang. Menurut Slavin (1994: 49) seorang anak yang bekerja dalam wilayah perkembangan terdekat terlibat dalam tugas-tugas yang tidak mampu diselesaikannya sendiri. Ia memerlukan kehadiran orang yang lebih mampu untuk membantunya. Dengan mengerjakan serangkaian tugas belajar di wilayah perkembangan terdekat seorang anak diharapkan mencapai tingkat kecakapan tertentu pada waktu selanjutnya. Dengan demikian proses belajar di wilayah perkembangan terdekat dapat dipandang sebagai suatu proses transisi atau peralihan dari tingkat perkembangan aktual ke tingkat perkembangan potensial.
c. Pemagangan kognitif (cognitive apprenticeship)
Ide kunci ini adalah gabungan dua ide kunci yang pertama, yaitu hakikat sosial dan perkembangan daerah terdekat . Menurut Vygotsky, dalam proses pemagangan kognitif seorang siswa secara bertahap mencapai kepakaran dalam interaksinya dengan seorang pakar, orang dewasa atau teman sebayanya dengan pengetahuan yang lebih (Nur, 1999: 5). Implementasi dari ide ini adalah pembentukan kelompok belajar kooperatif heterogen sehingga siswa yang lebih pandai dapat membantu siswa yang kurang pandai dalam menyelesaikan tugasnya.
d. Perancahan (Scaffolding)
Scaffolding atau perancahan (anak tangga) adalah suatu prinsip yang mengacu kepada bantuan yang diberikan oleh orang dewasa atau teman sebaya yang kompeten. Dalam proses pembelajaran bantuan itu diberikan kepada siswa dalam bentuk sejumlah besar dukungan pada tahap awal pembelajaran. Selanjutnya bantuan itu makin berkurang dan pada akhirnya tidak ada sama sekali sehingga anak mengambil alih tanggung jawab secara penuh terhadap apa yang dikerjakan setelah ia mampu melakukannya (Slavin, 1997: 48).
Ide kunci ini menjelaskan pandangan Vygotsky tentang perlunya pemberian tugas-tugas komplek, sulit dan realistik kepada siswa. Melalui pemecahan masalah dalam tugas yang diterimanya, seorang siswa diharapkan dapat menemukan keterampilan-keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya. Dengan demikian pembelajaran yang terjadi lebih menekankan pada model pengajaran top-down (Nur, 1999: 5). Pembelajaran yang demikian berlawanan dengan model bottom-up tradisional, dimana keterampilan-keterampilan dasar diberikan secara bertahap untuk mewujudkan keterampilan yang lebih kompleks.
Implikasi yang muncul atas pandangan Vygotsky dalam pendidikan anak adalah perlu adanya suatu dorongan kepada siswa untuk berinteraksi dengan orang di sekitarnya yang punya pengetahuan lebih baik yang dapat memberikan bantuan dalam pengembangan intelektualnya. Lebih luas daripada itu, para konstruktivis menekankan agar para pendidik memperhatikan keberadaan situasi sekolah, masyarakat dan teman di sekitar seseorang yang dapat mempengaruhi pengembangan intelektual seorang siswa (Cobb dalam Suparno, 1997: 96).
Salah satu karakteristik dalam pembelajaran matematika realistik adalah penemuan konsep dan pemecahan masalah sebagai hasil sumbang gagasan para siswa. Kontribusi gagasan tersebut dapat diwujudkan melalui proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat interaksi antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru atau antara siswa dengan lingkungannya. Dengan demikian, selain ada aktivitas mental yang bersifat personal, dalam pembelajaran matematika realistik guru perlu mendorong munculnya interaksi sosial antar anggota kelas dalam proses mengkonstruk pengetahuan. Melalui interaksi sosial tersebut siswa yang lebih mampu berkesempatan menyampaikan pemahaman yang dimilikinya pada siswa lain yang lebih lemah. Hal ini memungkinkan bagi siswa yang lebih lemah tersebut memperoleh peningkatan dari perkembangan aktual ke perkembangan potensial atas bantuan siswa yang lebih mampu. Sedangkan di sisi lain guru mempunyai peran dalam membantu siswa yang
mengalami kesulitan dengan memberi arah, petunjuk, peringatan dan dorongan. Dengan demikian tampak bahwa proses pembelajaran matematika realistik sejalan dengan teori Vygotsky yang memberi tekanan pada pentingnya interaksi sosial dalam perkembangan intelektual anak.
Dalam hal ini, interkasi sosial antar anggota kelas diwujudkan melalui tahap mendiskusikan dan menegosiasikan penyelesaian masalah di tingkat kelompok maupun tingkat kelas. Dalam diskusi kelompok maupun kelas tersebut guru perlu mendorong semangat saling berbagi dan menghargai pandangan pihak lain. Sedangkan interaksi yang dapat dibangun oleh guru dengan para siswa adalah dengan memberikan bantuan seperlunya tanpa harus membatasi keleluasaan siswa mengekspresikan ide-idenya.
3. Teori Ausubel
Ausubel, Noval dan Hanesian menggolongkan belajar atas dua jenis yaitu belajar menghafal dan belajar bermakna (Suparno, 1997: 53). Menurut Nur (1999: 38) belajar menghafal mengacu pada penghafalan fakta-fakta atau hubungan-hubungan, misal tabel perkalian dan lambang-lambang atom kimia. Sedangkan menurut Ausubel belajar dikatakan bermakna jika informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitifnya sehingga siswa tersebut mengkaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya (Hudojo, 1988: 61).
Menurut Parreren melalui belajar bermakna struktur konsep yang dimiliki seseorang mengalami perkembangan. Selain itu konsep-konsep yang terhubung satu dengan yang lain secara bermakna melahirkan kaidah yang berguna dalam pemecahan masalah (Winkel, 1991: 57). Pandangan ini sejalan dengan pendapat yang menyebutkan bahwa pengetahuan yang dipelajari secara bermakna akan memungkinkan untuk diterapkan ke situasi yang lebih luas dalam kehidupan nyata (Nur, 1999: 34).
Berlawanan dengan penjelasan di atas, jika pengetahuan yang semestinya dapat diajarkan secara bermakna tetapi diajarkan dengan menghafal akan menghasilkan pengetahuan inert. Pengetahuan inert adalah pengetahuan yang sesungguhnya dapat diterapkan untuk situasi yang lebih umum, tetapi pada kenyataannya hanya dapat diterapkan dalam situasi khusus (Nur, 1999: 38). Siswa yang hanya menghafal suatu konsep tanpa benar-benar mengerti isinya merupakan bentuk dari korban verbalisme (Winkel, 1991: 58).
Salah satu karakteristik pembelajaran matematika realistik adalah penggunaan konteks. Penggunaan konteks dalam pembelajaran matematika realistik berarti bahwa lingkungan keseharian atau pengetahuan yang telah dimiliki siswa dapat dijadikan sebagai bagian materi belajar bagi siswa. Apa yang terjadi di sekitar siswa maupun pengetahuan yang dimiliki siswa merupakan bahan yang berharga untuk dijadikan sebagai permasalahan kontekstual yang menjadi titik tolak aktivitas berfikir siswa. Permasalahan yang demikian lebih bermakna bagi siswa karena masih berada dalam jangkauan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya. Oleh sebab itu, untuk memecahkan masalah kontekstual seorang siswa harus dapat mengkaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan permasalahan tersebut. Dengan demikian seorang siswa akan berhasil memecahkan masalah kontekstual jika ia mempunyai cukup pengetahuan yang terkait dengan masalah tersebut. Selain itu siswa juga harus dapat menerapkan pengetahuan yang telah dimilikinya untuk menyelesaikan masalah kontekstual tersebut. Dengan demikian penyajian masalah kontekstual untuk siswa dalam pembelajaran matematika realistik sejalan dengan teori belajar bermakna Ausubel.
4. Teori Bruner
Bruner (dalam Hudojo, 1988: 56) berpendapat bahwa belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut. Menurut Bruner pemahaman atas suatu konsep beserta strukturnya menjadikan materi itu lebih mudah diingat dan dapat dipahami lebih komprehensif.
Mirip dengan seperti apa yang dikemukakan Piaget, Bruner berpendapat adanya tiga tahap perkembangan mental yang dilalui peserta didik dalam proses belajar. Namun ketiga tahap berpikir menurut Bruner ini tidak dikaitkan dengan usia peserta didik. Tiga tahap perkembangan mental menurut Bruner (dalam Hudojo, 1988: 57) tersebut adalah:
a. Enactive. Dalam tahap ini seseorang mempelajari suatu pengetahuan secara aktif dengan menggunakan/ memanipulasi benda-benda konkrit atau situasi nyata secara langsung.
Contoh masalah yang dirancang untuk materi pembelajaran PLSV di antaranya ditujukan untuk mengkonstruk prinsip yang dapat digunakan untuk memperoleh persamaan-persamaan yang ekuivalen. Untuk hal tersebut misalnya dapat diajukan masalah yang memuat ide tentang kesetimbangan neraca, seperti berikut ini.
Masalah : KELINCI PERCOBAAN
Dalam kegiatan praktikum Biologi, siswa kelas I A menggunakan kelinci sebagai objek percobaan. Mereka perlu mengetahui berat hewan ini. Pengukuran berat kelinci dilakukan dengan cara meletakkan kelinci dan 2 buah anak
timbangan 4 ons di satu lengan. Sedangkan lengan neraca yang lain diisi 3 buah anak timbangan 8 ons. Hal ini menyebabkan neraca dalam keadaan setimbang. Tentukan berat kelinci tersebut dan jelaskan bagaimana caramu menentukan berat kelinci itu.
Dalam tahap enactive seorang siswa dapat menyelesaikan masalah ini dengan memanipulasi seperangkat neraca dan anak-anak timbangan buatannya untuk memodelkan neraca sesungguhnya. Pada tahap ini mereka memanipulasi benda-benda konkrit untuk menyelesaikan masalah di atas.
b. Ikonic. Pada tahap ini kegiatan belajar sesorang sudah mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari objek-objek. Dalam tahap ini tidak lagi dilakukan manipulasi terhadap benda konkret secara langsung, namun anak sudah dapat memanipulasi dengan menggunakan gambaran dari objek.
Sesuai dengan pandangan Bruner di atas, Masalah: Kelinci Percobaan di atas dapat direpresentasikan lebih dengan gambar berikut ini.

Gambar 2.1. Model informal sebuah masalah persamaan
Pemanipulasian dengan gambar seperti di atas lebih abstrak dibanding dengan pemanipulasian benda konkrit tahap enactive sebelumnya.
c. Simbolic. Tahap terakhir ini adalah tahap memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak lagi terkait dengan objek maupun gambaran objek.
Sebagai contoh dari perkembangan mental siswa pada tahap simbolik ini adalah saat siswa sudah mengetahui bahwa salah satu prinsip untuk memperoleh persamaan yang ekuivalen adalah dengan mengurangi kedua ruas persamaan. Dengan mengetahui prinsip ini apabila mereka menemui persamaan 2x + 4 = 9 + x maka secara terurut mereka dapat memperoleh persamaan-persamaan yang ekuivalen seperti 2x + 4 – 4 = 9 + x – 9 atau 2x – x + 4 = 9 + x – x . Dalam memanipulasi simbil-simbol tersebut mereka sudah tidak lagi memerlukan gambaran seperti pada tahap ikonik.
Selain teori tentang tahap perkembangan mental di atas, pendapat Bruner yang lain yang sesuai dengan penelitian ini adalah teorema konstruksi (construction theorem) dan teorema notasi (notation theorem). Melalui teorema konstruksi, Bruner (dalam Pudjohartono, 2003: 23) berpendapat bahwa cara terbaik bagi siswa untuk mempelajari konsep atau prinsip matematika adalah dengan mengkonstruksi konsep atau prinsip tersebut. Alasannya adalah jika para siswa mengkonstruksi sendiri representasi dari suatu konsep atau prinsip maa mereka akan lebih mudah menemukan sendiri konsep atau prinsip yang terkandung dalam representasi itu. Selanjutnya mereka lebih mudah mengingat pengetahuan itu serta lebih mudah menerapkannya dalam konteks yang lain yang sesuai. Dalam teorema ini, sekali lagi Bruner menekankan perlunya penggunaan representasi konkret yang memungkinkan siswa untuk aktif.
Sedangkan melalui teorema notasi Bruner (dalam Pudjohartono, 2003: 25) menjelaskan bahwa representasi dari suatu materi akan lebih mudah dipahami siswa apabila didalam representasi itu digunakan notasi yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Sebagai contoh, untuk siswa sekolah dasar yang berada dalam tahap operasi konkret kalimat yang berbunyai “ tentukan sebuah bilangan bulat yang jika ditambah 6 hasilnya 9” akan lebih mudah dinyatakan dalam bentuk persamaan “ ….. + 6 = 9”. Namun persamaan x + 6 = 9 merupakan representasi yang lebih sesuai untuk siswa SLTP.

Bagaimana Cara Mengaktifkan Hand Phone yang sudah Lama Mati?

Terkadang kita memiliki HP yang sudah lama engga aktif tiba-tiba kita ingin mengaktifkannya. Kebanyakan kita akan melakukan pengisian batrei, tapi setelah sekian lama melakukan pengisian dan kita ingin mengaktifkan HP tetap tidak mau aktif. Sobat jangan sedih dulu, apalagi sampai dibawa ketukang service, bisa-bisa dimintai biaya tinggi dengan alasan banyak komponennya yang rusak. Tenang, Hpnya engga rusak kok, begitupun dengan batreinya. HP nya engga mau aktif karena engga ada listriknya sama sekali (karena kelamaan disimpan).
Untuk sobat semua, ini ada beberapa tips yang aku tau dan sudah sering kok aku coba dan semuanya sukses aktif 100% (kalau tukang service jangan marah ya, mungkin karena tips ini pendapatannya jadi bekurang)
1. Lepas batrei dari HP.
2. Ambil changer Kodok, klau engga ada beli dulu harganya sekitar Rp 15 ribu.
3. Pasang batrei HP tadi ke changer kodok, pastikan alumenium batrei menyentuh 2 besi changer.
4. Hubungkan kelistrik dan perhatikan apakah lampu hijau menyala(tergantung merk) dan lampu merah 
    berkedip.
5. Tunggu sekitar 30 menit.
6. Lepaskan batrei dari changer kodok dan pasang pada HP
7. Perhatikan apa yang terjadi, HP sobat hidup kembali.
8. Bila batreinya masih sedikit lanjutkan melakukan pengisian dengan changer HP seperti biasa.

Demikian tips yang bisa saya berikan, semoga bermanfaat. . . .

Rabu, Juni 08, 2011

Study Kasus dalam Pembelajaran Matematika

Study Kasus dalam Pembelajaran

Disusun Oleh :
Akhmad Mukhlas Riady, S.Pd
Mahasiswa UNY 2010


A.     Study Kasus
Seorang ibu di Kotabaru Kal-Sel dengan umur 25 tahun ditinggal suami untuk selamanya (suami meninggal dunia) dengan seorang putri berumur 7 tahun dan Sang suami juga meninggalkan deposito sebesar Rp 20.000.000,00. Ibu punya cita-cita ingin menyekolahkan anaknya di sekolah favorit mulai SD sampai dengan kuliah di perguruan tinggi yang favorit juga. Ibu itu ingin mempergunakan uangnya dengan sebaik-baiknya.

B.     Permasalahan
Bagaimana cara ibu itu mempergunakan uang Rp 20.000.000,00 agar cita-citanya tercapai? Sementara inflasi pertahun sekitar 5 %.
Karena tidak bisa menemukan jalan keluarnya, terpaksa si ibu dengan melalui telephone minta bantuan Mahasiswa Pascasarjana UNY Prodi Matematika Kal-Sel 2010.

Berikut usul dan analisa dari salah satu Mahasiswa Kal-Sel:
Mengusulkan Membuat Rumah Makan Ayam Goreng Spesial

  1. Latar Belakang Pengusulan
       Rumah makan untuk ayam goreng special masih sedikit di Kotabaru, sedangkan untuk peminat ayam goreng relatif masih tinggi. Ini dibuktikan berdasarkan survei Mahasiswa STKIP Paris Berantai tahun 2010 tentang permintaan konsumen dibeberapa RM/Warung. Rumah Makan yang akan didirikan Ibu katakanlah Ibu Rahmi, usaha ini akan dimulai dengan modal sebesar Rp 3.225.000,00 menjadi sebuah usaha ayam goreng spesial di Kotabaru dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Dengan ciri khas pemilihan ayam yang baik dalam keadaan hidup, memperhatikan factor makanan ayam, dan
penyembelihan sampai dimasak tidak lebih dari 3 jam sehingga bisa menghasilkan citarasa ayam goreng beraroma tinggi . Diharapkan para konsumen menambatkan pilihan terhadap ayam goreng ini. Kita tahu konsumen peka atau paham terhadap ayam yang divaksinasi, penggunaan konsentrat, dan ransum yang aman terhadap bahan baku makanan sehingga tidak menimbulkan reaksi terhadap kulit.

  1. Analisis Usaha
Usaha yang diberi nama RM Rahmi Ayam Goreng Spesial ini rencananya akan mempekerjakan 4 orang karyawan lokal dengan gaji Rp 200.000 per minggu untuk 2 orang koki (pekerja khusus dapur) dan Rp 150.000,00 per minggu untuk 2 orang pelayan. Bila usaha ini maju, Ibu Rahmi akan mendapat bahan baku ayam dari seorang penjual yang dipasok dari Pulau Sebuku, Lontar, dan Berangas. Ayam akan dibeli dalam keadaan hidup dengan berat berkisar 1,2 kg dengan harga Rp 30.000,00/ekor dengan perincian 1 ayam = 10 potong. Setelah itu ayam akan dibersihkan di sebuah tempat pemotongan khusus. Supaya Menu ayam Rumah Makan ini banyak diminati oleh para pembeli kita harus membuat sealami mungkin bumbu dan kebebasan dari bahan pengawet. Bumbu yang khas berdasarkan urutan pengolahan yang benar akan membuat konsumen mengunggulkan ayam goreng ini. Sehingga kealamian bumbu itu merupakan ciri khas dari rumah makan ini. Untuk minggu pertama kita menyediakan ayam 5 ekor/hari. Bila konsumen merespon baik kita bisa meningkatkan penyediaan ayam. Untuk Harga 1 porsi ayam sebesar Rp 15.000,00, buka setiap hari mulai pukul 09.00 – 21.00 WITA, RM ini juga menerima layanan pemesanan melalui telepon ke 0813 4839 4139 tapi tidak disertai jasa antar, Ada pula pemberian diskon untuk pemesanan atau pembelian dalam jumlah besar. Besarnya diskon tergantung jumlah pesanannya dan jenis pesanannya (paha, dada, sayap, dll). Untuk sementara halaman, teras, dan ruang tamu rumah ibu Rahmi kita pergunakan dulu sebagai Rumah Makan karena rumah ibu Rahmi cukup strategis di pinggir jalan. Warna RM makan diusahakan berwarna ungu dengan lukisan laut yang bertepi dengan makna bahwa pemilik RM ini telah ditinggal mati suaminya dan memiliki cita-cita yang jauh kedepan.  

  1. Rincian Biaya
a.       Modal Usaha
Biaya Investasi
Pembelian peralatan memasak Rp 400.000,00
Pembelian meja dan kursi        Rp 500.000,00

b.      Biaya Variabel
Pembelian ayam untuk 7 hari (35 ekor x Rp 30.000,00 = Rp 1.050.000,00)
Pembelian bahan pelengkap/bumbu Rp 500.000,00

c.       Gaji Karyawan per minggu
Karyawan (2 orang x Rp 200.000,00) + (2 orang x Rp 150.000,00) =
Rp 700.000,00

d.      Izin Usaha Berdasarkan PERDA No.10 th 2009 = Rp 75.000,00

Total modal Usaha Rp 3.225.000,00

e.       Biaya anaknya masuk sekolah Rp 500.000,00

f.        Biaya hidup ibu dengan anaknya (makan, listrik, dll) diusahakan paling   banyak selama 1 bulan Rp 1.500.000,00 (sudah disisihkan di minggu I)

g.       Total Biaya Pengeluaran minggu I adalah Rp 5.225.000,00
h.      Sisa Deposito Rp 14.775.000,00 bulan pertama.

Untuk pemasukan dengan asumsi semua ayamnya habis.
Rp 15.000,00 x 10 porsi x 35 ayam = Rp 5.250.000
yang bertepi dengan makna bahwa pemilik RM ini telah ditinggal mati suaminya dan memiliki cita-cita yang jauh kedepan.  

  1. Rincian Biaya
a.       Modal Usaha
Biaya Investasi
Pembelian peralatan memasak Rp 400.000,00
Pembelian meja dan kursi        Rp 500.000,00

b.      Biaya Variabel
Pembelian ayam untuk 7 hari (35 ekor x Rp 30.000,00 = Rp 1.050.000,00)
Pembelian bahan pelengkap/bumbu Rp 500.000,00

c.       Gaji Karyawan per minggu
Karyawan (2 orang x Rp 200.000,00) + (2 orang x Rp 150.000,00) =
Rp 700.000,00

d.      Izin Usaha Berdasarkan PERDA No.10 th 2009 = Rp 75.000,00

Total modal Usaha Rp 3.225.000,00

e.       Biaya anaknya masuk sekolah Rp 500.000,00

f.        Biaya hidup ibu dengan anaknya (makan, listrik, dll) diusahakan paling   banyak selama 1 bulan Rp 1.500.000,00 (sudah disisihkan di minggu I)

g.       Total Biaya Pengeluaran minggu I adalah Rp 5.225.000,00
h.      Sisa Deposito Rp 14.775.000,00 bulan pertama.

Untuk pemasukan dengan asumsi semua ayamnya habis.
Rp 15.000,00 x 10 porsi x 35 ayam = Rp 5.250.000
yang bertepi dengan makna bahwa pemilik RM ini telah ditinggal mati suaminya dan memiliki cita-cita yang jauh kedepan.  

  1. Rincian Biaya
a.       Modal Usaha
Biaya Investasi
Pembelian peralatan memasak Rp 400.000,00
Pembelian meja dan kursi        Rp 500.000,00

b.      Biaya Variabel
Pembelian ayam untuk 7 hari (35 ekor x Rp 30.000,00 = Rp 1.050.000,00)
Pembelian bahan pelengkap/bumbu Rp 500.000,00

c.       Gaji Karyawan per minggu
Karyawan (2 orang x Rp 200.000,00) + (2 orang x Rp 150.000,00) =
Rp 700.000,00

d.      Izin Usaha Berdasarkan PERDA No.10 th 2009 = Rp 75.000,00

Total modal Usaha Rp 3.225.000,00

e.       Biaya anaknya masuk sekolah Rp 500.000,00

f.        Biaya hidup ibu dengan anaknya (makan, listrik, dll) diusahakan paling   banyak selama 1 bulan Rp 1.500.000,00 (sudah disisihkan di minggu I)

g.       Total Biaya Pengeluaran minggu I adalah Rp 5.225.000,00
h.      Sisa Deposito Rp 14.775.000,00 bulan pertama.

Untuk pemasukan dengan asumsi semua ayamnya habis.
Rp 15.000,00 x 10 porsi x 35 ayam = Rp 5.250.000
Saldo Minggu I
Rp 5.250.000,00 – Rp 5.225.000,00 = Rp 25.000,00
Saldo Minggu ke II
Rp 5.250.000,00 – Rp 2.250.000,00 = Rp 3.000.000,00
Saldo Untuk bulan pertama bila penjualan berjalan lancar adalah Rp 9.025.000,00
  1. Prospek Usaha
    Usaha ini ke depannya akan memiliki prospek yang cerah karena masih kurangnya kebutuhan protein hewani.
A.     Kesimpulan
Berdasarkan data di atas kami mengasumsikan bahwa dengan Uang sebesar Rp 20.000.000,00 Si ibu bisa bertahan sampai anaknya lulus kuliah (kurang lebih selama 17 tahun).

B.     Materi yang terkait dengan kasus di atas

1.      Operasi bilangan
2.      System persamaan linier
3.      Aritmetika sosial
4.      Perbandingan
5.      Program linier
6.      Statistika (Probabilitas)

Bagaimana Cara Menyusun Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Bagaimana Cara Menyusun Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
 
Didedikasikan untuk para pendidik di Indonesia yang ingin mencoba memberikan nuansa baru dalam konsep mengajarnya, dengan harapan bisa lebih mengembangkan kemampuan anak didiknya. 
Semoga tulisan ini bermanfaat. amin. . .

Pengertian

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata apa yang dialami oleh siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.

Rasional

Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Pemikiran Tentang Belajar

Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.

Hakekat

Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.

Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.

Penerapan CTL dalam pembelajaran

Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.

Rabu, Oktober 20, 2010

Sejarah Pulau Sebuku di Kalimantan Selatan


       Pulau Sebuku 
(Riwayatmu dulu dan nasibmu dimasa akan Datang) 
    Mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa Pulau Sebuku sebuah pulau kecil yang berada disebelah tenggara pulau kalimantan dan merupakan bagian dari Kabupaten Kotabaru serta merupakan penghasil batubara telah berada dalam kitab Negara Kartagama dengan nama Sawaku karangan Mpu Prapanca (1365) yang ditulis pada masa kejayaan Raja Hayam Wuruk yang merupakan raja dari Kerajaan Majapahit.

         Sekitar tahun 1997 pulau ini mulai ditambang untuk diambil SDA (besi dan batu bara) sampai tulisan ini dibuat (Juni 2014) penambangan bijih besi dan penambangan batu bara masih berlangsung. Dari khabar yang didengar tenaga kerja lokal sudah mulai di PHK karena perusahan lebih memilih pekerja dari luar pulau sebuku.
          Pulau Sebuku, adalah salah satu dari beberapa pulau yang tersebar di perairan Selat Makassar, dan menjadi salah satu Daerah Kecamatan di Daerah Tingkat II Kabupaten Kotabaru Propinsi Kalimantan Selatan dengan nama Kecamatan Pulau Sebuku.Kecamatan ini dari sudut pandang geograpis terkesan terpencil dan terisolir, meskipun pada kenyataannya tidaklah begitu, karena kemapanan beberapa anggota masyarakatnya, menjadi penunjang bagi pengadaan sarana transportasi laut antar pulau yang cukup memadai sehingga pergerakan warga kecamatan tersebut dari dan ke Ibukota Kabupaten terjadi hampir setiap hari, dari pagi sampai sore hari. Disamping itu hampir separuh penduduknya hidup dengan mata pencaharian sebagai nelayan.Sebagai nelayan, berlayar  atau lebih tepatnya disebut melaut, dari satu tempat ketempat lain adalah keseharian, kalaupun tidak disebut keniscayaan. Sehingga, meskipun tinggal di daerah yang terpencil, komunikasi dengan dunia luar  tidaklah terhambat ke Pulau ini, mengingat kondisi alam di tempat ini, disamping terpencil, tanahnya tidak begitu subur dan ketersediaan air tawar dimusim kemarau relative sulit. Jika dibanding dengan kondisi alam di daerah yang mereka tinggalkan, maka dapat dipastikan bahwa kondisi tempat asal mereka jelas lebih baik dan lebih subur.  Disamping itu, ditahun – tahun awal perpindahan tersebut, areal – areal garapan yang belum digarap atau tak bertuan masih cukup luas, sehingga alasan ketiadaan areal juga menjadi tidak logis. Kalaupun perpindahan itu terjadi karena keterkaitan mata pencarian mereka dengan letak geografis Pulau ini yang berada di Sebelah Barat Selat Makasar dan sebelah Timur Selat Sebuku, sehingga cocok untuk komunitas nelayan, maka Orang Banjar pada umumnya sejak dahulu sampai sekarang mayoritas adalah petani –bukan nelayan- dan kalaupun ada yang menjadi nelayan, maka sifatnya lebih sebagai nelayan sungai atau nelayan laut sampingan. Oleh karena itu perpindahan ini sulit untuk disebut sebagai perpindahan ekonomi. Perpindahan dengan alasan Keamananlah yang terlihat lebih tepat sebagai motivasi utama. Karena daerah-daerah Hulu Sungai sejak abad ke 17 sampai dengan awal abad ke 20 pada umumnya merupakan titik – titik perjuangan yang  terhebat melawan penjajah Belanda dan Jepang di kawasan Kalimantan Selatan. Arus Pengungsian masyarakat pejuang maupun non pejuang di wilayah ini mayoritas menuju ke arah Pegunungan Meratus terutama di daerah-daerah Loksado, Hampang, Halong Batangalai, Batu Benawa dan Sungai Pinang. Gerak pengungsian ini jika sedikit diteruskan ke arah Timur Laut, akan sampai ke daerah Pesisir Pulau Kalimantan yang posisinya berseberangan dengan Pulau Laut Kotabaru. Namun karena di daerah-daerah pesisir ini juga banyak terjadi chaos antara masyarakat dengan penjajah, terutama di daerah Tanah Laut Pelaihari, Pagatan dan Pamukan, sehingga mengacu pada sifat dasar manusia yang cenderung terus mencari tempat yang lebih aman dari sebelumnya. Dapat diasumsikan pergerakan pengungsian itu, sebagian mencapai Pulau Laut Kotabaru bahkan beberapa terus sampai ke Pulau Sebuku, sebagai salah satu Pulau di sekitar Pulau Laut Kotabaru. Beberapa keterangan dari orang-orang tua yang masih hidup, seperti Sibat (Sungai Buah), H.Amir (Kanibungan) dan Masude (Sekapung) serta melihat dari beberapa fakta yang masih tersisa, bahwa penduduk asli Pulau Sebuku adalah masyarakat Banjar laut Pulau. Namun kerena masyarakat dari Suku Banjar Laut Pulau ini kurang mampu berintegrasi dengan masyarakat pendatang, lambat laut dominasi penduduk digeser oleh para pendatang yang umumnya dari kelompok pengungsian (banjar Pahuluan) atau pelancong (suku Bugis dan Mandar). 
      Keterpencilan Pulau Sebuku, pada waktu itu, ditambah dengan keterbatasan sarana transportasi, tentu sangat menguntungkan bagi pengungsi tersebut, untuk mendapatkan rasa aman dari ancaman-ancaman yang mungkin timbul sehingga perlahan namun pasti, asap-asap kehidupanpun mulai mengepul di Pulau ini. Kehidupan awal mereka dipulau sebuku dimulai dengan hidup berkelompok dan membentuk koloni.
      Meskipun tidak bertepatan, hadir pula di Pulau itu perantau-perantau  suku Bugis dan Mandar  dari Sulawesi Selatan. Disamping memiliki kemiripan motivasi dengan masyarakat Banjar (pengungsi). Factor budaya kelautan yang melekat erat, juga menjadi pendorong bagi mereka untuk menjelajahi samudera dan laut lepas yang terhampar begitu luas, sembari sewaktu-waktu singgah di Pulau-Pulau terdekat yang mereka lalui untuk beristirahat  atau  menghindari amukan gelombang yang sewaktu waktu tidak bersahabat, sekaligus memasarkan hasil tangkapannya  kepada penduduk setempat yang mereka singgahi.
          Pulau Sebuku, yang kedudukannya relative dekat dengan Pulau Sulawesi-pun tak luput sebagai tempat persinggahan tersebut. Dari sekedar singgah, pendatang Sulawesi ini sebagian mencoba menetap. Awalnya pendatang suku Bugis tinggal di daerah Bagu Riam dan Daeng Satuju. Lambat laun terbentuklah suatu komunitas baru yang turut memberi warna terhadap kemejemukan yang mulai merebak di seputaran Pulau Sebuku. Yakni komunitas suku Bugis, dan Mandar, namun karena faktor kesesuaian lokasi tempat tinggal dengan mata Pencaharian, setahap demi setahap masyarakat Bugis ini mendominasi daerah pesisir Utara dan Selatan (Sekapung, Rampa dan Tanjung Mangkok), sementara masyarakat Banjar beralih ke lokasi – lokasi Telaga, Bagu Riam, Kanibungan,Gumbil, Taluk Takapit, Pantai Buluh, Mandin, Pulau Tiwadak, Sarakaman, Sungai Basar dll. Peta penyebaran anggota masyarakat ini, terlihat dinamis, karena terjadi perpindahan-perpindahan letak desa secara bertahap pada kurun waktu berjalan, sehingga dapat ditemui beberapa lokasi bekas kampung yang sudah tidak ditinggali/ atau hanya satu-dua penduduk saja yang tersisa. Dan jadilah komunitas Pulau Sebuku seperti yang sekarang ini kita lihat dan rasakan.
GAMBARAN UMUM KEADAAN WILAYAH
DAN DESA SAMPAI DENGAN TAHUN 1999


  KECAMATAN PULAU SEBUKU
Pulau Sebuku mulanya merupakan bagian dari Kecamatan Brangas, dengan dusun – dusun kecil yang dikelompokkan menjadi 4 buah Desa, yakni Desa Sungai Bali (Sei Bali), Desa Sarakaman, Desa Kanibungan dan Desa Sekapung.
Petugas Kecamatan yang ada dilokasi ini
Kecamatan ini, sejak resmi menjadi sebuah kecamatan tersendiri – lepas dari Kecamatan Pulau Laut Timur Berangas - mengalami penambahan / pemekaran jumlah Desa.
Desa Sungai Bali dipecah menjadi empat buah Desa yaitu  Desa Sungai Bali (1) , Desa Rampa (2) dan Desa Tanjung Mangkuk (3) dan Desa Gunung Halaban (4). Selanjutnya Desa Sarakaman dibagi menjadi Desa Sarakaman (5), Desa Sungai Besar (6) dan Desa Belambus (7). Desa Sekapung (8) tidak mengalami pemekaran, Terakhir Desa Kanibungan di pecah menjadi  Desa Kanibungan (9) Sungai Alas (10), Desa Mandin Libak (11) dan Desa Mandin Luar (12).
Dari waktu kewaktu jumlah Desa ini senatiasa mengalami perubahan akibat adanya pemekaran atau perampingan.
Populasi penduduknya di tahun 2004 mencapai lebih dari 6000 jiwa dengan penyebaran yang tidak merata.Hampir setengah penduduknya bertempat tinggal daerah pesisir bagian Utara Pulau Sebuku, sepertiganya tinggal di pesisir bagian Selatan dan sisanya menyebar dari Selatan ke Utara.
Sungai Bali sebagai pusat administrasi juga dilengkapi dengan kantor Kecamatan, Polsek, Koramil dan Puskesmas
Sementara di Desa yang berada dalam lingkup wilayahnya dipimpin oleh Kepala-Kepala Desa yang lazim disebut Pembakal.  Kepala-Kepala Desa masih dipilih  secara tradisional.  Yaitu dipilih karena latar belakang kekayaan, penguasaan lahan, senioritas, hubungan kekeluargaan dan pengaruhnya di masyarakat, baru memasuki tahun – tahun awal Orde Reformasi, dinamika Demokrasi dalam pemilihan Kepala Desa dan Pejabat Desa lainnya semakin nampak.

DESA SEKAPUNG
Desa Sekapung, terletak di ujung Selatan Pulau Sebuku, bertopografi rendah (antara 0 – 25 m di atas permukaan laut). Masyarakat awal yang tinggal di lokasi ini adalah Suku Banjar yang tinggal dipesisir pantai. Namun karena pola hidup yang cenderung terbiasa homogen (tidak terbiasa bergabung dengan orang lain yang berbeda suku) serta geografis pantai yang tidak sesuai dengan mata pencaharian dan pola hidup semula, secara bertahap orang-orang Suku Laut Pulau ini bergeser ke Utara, dengan cara menjual tanahnya kepada para pendatang dari Sulawesi dan membeli atau menempati lokasi baru di wilayah Kanibungan.
Orang sulawesi pertama yang tinggal di Bagu Riam (3-4 km kesebelah Utara dari Desa Sekapung) dan pindah ke daerah Sekapung adalah keluarga H.Kanda dan H.Libu dari suku Mandar, yang selanjutnya menjadi cikal bakal bagi masyarakat Sekapung. Tempat tinggal keduanya sebelumnya adalah di Tanjung Pemancingan Kotabaru. Sehubungan dengan aktivitasnya mengambil telur penyu di Samber Gelap, beliau sering melintasi Pulau Sebuku, dan kadang-kadang  singgah di pulau dekat pesisir Sekapung, untuk menghindari gelombang yang relative besar. Pulau tersebut kemudian diberi nama Pulau Perdamaian atau pandamaian. H.Kanda memiliki 4 orang anak yang merupakan orang keturunan Sulawesi pertama yang dilahirkan di desa Sekapung, yaitu Husein, H.Dullah, Sairah dan H.Jabbar. Sementara H.Libu memiliki 5 orang anak yaitu Nahang, H.Dile, Taher, Merah dan Sahliah. Melihat dari usia cucu H.Kanda yang ada sekarang (tahun 2004), diperkirakan awal keberadaan orang Sulawesi di desa Sekapung terjadi di akhir abad ke 19.
Sebagian besar warga sekapung yang ada saat tulisan ini dibuat, adalah keturunan H.Kanda dari generasi ke tiga (cucu), empat (buyut) lima (intah/canggah) dan keenam (muning/wareng).
Generasi yang dominan adalah generasi keempat dan kelima yang menempati usia praproduktif.
Kuburan H.Kanda dan Husein terdapat di bagian Barat Laut Desa, dekat dengan lokasi Tanjung Kepala. Daerah ini menurut keterangan beberapa orang tua di Sekapung, merupakan lokasi awal Desa Sekapung, namun sekarang sudah tidak ditinggali lagi. Sementara kuburan H.Libu terdapat di sebelah Utara Desa, dikawasan yang sekarang disebut sebagai Kampung Tengah, berseberangan dengan Gedung Olah Raga yang dibangun pada tahun 2004.
Kepala Desa definitive pertama yang menjabat di tahun 1930-an adalah Bapak Cokkong, dilanjutkan oleh Bapak Tengge dan Nanti.Bapak Nanti, adalah Kepala Desa dari Suku Banjar Laut Pulau yang terakhir di Sekapung. Selanjutnya kepemimpinan beralih ke Suku Bugis/Mandar atas nama Tahir bin H. Libu, lalu H.Abul (menantu H.Libu), Mashude bin H.Dullah bin H.Kanda, Darmin bin Saibe binti Sairah bin H.Kanda. Dan terakhir (pejabat Kepala Desa saat tulisan ini dibuat) adalah Juhriansyah bin H.Jebbar bin H.Kanda lalu Abdul Hafid (2009)
Peralihan kepemimpinan dari Suku Banjar Laut Pulau (sekarang disebut penduduk Pulau Laut) ke Suku Bugis/Mandar ini juga menandai perubahan dominasi anggota masyarakat, yang semula didominasi Suku Banjar Laut Pulau menjadi hampir keseluruhan dari Suku Bugis dan Mandar.
Jumlah anggota masyarakat berdasarkan cacah pada tahun 1999 mencapai 1052 jiwa, terdiri atas 265 keluarga dengan pembagian berdasarkan Rukun Tetangga adalah RT I 255 Jiwa, RT II  166 Jiwa, RT III 269 Jiwa, RT IV  238 Jiwa dan RT V   124 Jiwa. Kepadatan penduduk mencapai 28 jiwa per satu kilometer perseginya.
Migrasi yang terjadi di Kawasan Sekapung lebih dominan bersifat Migrasi masuk ketimbang keluar. Peningkatan jumlah Penduduk akibat migrasi ini terlihat tegas sejak tahun 1997 hingga sekarang. Hal ini dilatar belakangi oleh eksistensi Perusahaan Pertambangan Batu Bara PT.BCS, PT.JHCI/LCI, CV Hasrat, PT.Geoservices, PT.BUMA, PT.SILO  dan Perusahaan Jasa PT.PBU serta CV.Padang Kuring, sehingga motif migrasi kedalam yang terjadi di Desa Sekapung adalah motif mencari pekerjaan.
Sejauh ini tidak ada pencatatan administrasi yang tertib  terhadap kehadiran imigran-imigran ini, sehingga terjadi kesulitan untuk mengidentifikasikan para pendatang tersebut.
Kaitan antara bentuk muka bumi dengan kegiatan ekonomi penduduk Sekapung terlihat sangat jelas.  Tempat tinggal mereka yang berada di kawasan tepi pantai  sejalan dengan mata pencaharian mereka sebagai nelayan, meskipun dari waktu kewaktu jumlah nelayan ini mengalami penurunan akibat beberapa diantara mereka beralih mata pencaharian, baik sebagai  karyawan perusahaan, pedagang atau lainnya. Dalam aktivitasnya, para nelayan ini mayoritas mempergunakan sarana balapan (sejenis kapal kecil bermesin) dan sebagian kecilnya mempergunakan perahu dayung. Metode pencarian ikan juga berubah-ubah sesuai dengan musim tangkapan. Metode penangkapan itu antara lain; mengondrong (mencari udang), membagang (mencari cumi) merempa (menjala ikan pantai) Matonda-tonda (memancing ikan sambil berputar mempergunakan balapan) Ma’meng (memancing biasa) atau mencari ubur-ubur.
Dari survey yang dilakukan tahun 2000 tercatat jumlah nelayan mencapai 361 orang atau 63,89 % dari jumlah penduduk usia produktif ( usia dewasa ), selebihnya 65 orang (11,5 %) sebagai Karyawan Perusahaan, 12 orang (2,12 %) Guru, 14 orang (2,48 %) pedagang , 39 orang petani ( 6,90 %) dan selebihnya ( 13.92 %) tidak memiliki mata pencaharian yang tertentu .  Angka pengangguran tak kentara menjadi cukup besar karena banyaknya anak usia sekolah ( SLTP, SLTA DAN PT ) yang tidak lagi melanjutkan pendidikannya, tetapi juga tidak memiliki mata pencaharian yang pasti. Sebagian besar dari mereka ikut kegiatan orang tuanya. Sehingga angka pengangguran ini masih dalam katagori pengangguran tidak ketara. Angka ketergantungannya mencapai 55,11 menunjukkan angka ketergantungan yang tinggi.
Dari sudut pandang pendidikan, jumlah penduduk usia sekolah yang aktif mengikuti pendidikan mencapai 163 siswa  SD  atau 52,58 % dari 310 jumlah penduduk usia sekolah, 35 siswa SMP ( 11,29 %) dan selebihnya 36,13 % adalah tamatan SDN atau yang berhenti dari SD yang tidak lagi melanjutkan pendidikannya ke SMP.
       Pada dasarnya kondisi lingkungan di wilayah ini, meskipun lamban tapi tetap bersifat dinamis, jumlah bangunan rumah yang terdapat di daerah sekapung sampai awal tahun 2000  mencapai
245 buah, nyaris eqiupalen  dengan jumlah Rumah Tangga yang mencapai 265 Keluarga . Kondisi Perumahannyapun relatif cukup baik dengan uraian 2 buah (0,8%) rumah permanen, 6 buah (2,45%) semi permanen 26 buah(10,61%) rumah ulin dan selebihnya rumah ulin - papan atau  rumah papan. Di daerah Kalimantan Selatan ,pada umumnya atap rumah manjadi salah satu indikator untuk mengetahui tingkat kesejahteraan pemilik rumah, jumlah rumah atap daun (katagori pra sejahtera) mencapai 85 buah atau 34,65 % dari jumlah rumah yang ada, rumah atap sirap (katagori sejahtera) 75 buah (30.61%) 19 buah (7,75%) atap genteng dan selebihnya 14,99 % atap seng.
Tempat peribadatan yang ada di daerah ini terdiri atas satu buah mesjid dan satu buah mushola. Bangunan umum lainnya adalah  satu bangunan Sekolah Dasar,satu bangunan SMPN 2 Pulau Sebuku, satu SMA Model Al Khawarizmi, satu Puskesmas Pembantu, dan satu Rumah Bidan. Sementara penerangan diusahakan sendiri secara pribadi oleh penduduk setempat melalui pengadaan genset. Bagi mereka yang tidak mampu membeli genset ini tetap dapat memperoleh penerangan dengan menyambung pada pemilik genset terdekat, dengan membayar suatu biaya tertentu sebagi uang pengganti biaya perawatan dan pemeliharaan.  Dari hasil survey tercatat 101 rumah memiliki atau memanfaatkan jasa listrik tersebut, selebihnya masih mempergunakan lampu minyak.
Sarana jalan di Desa ini masih berupa jalan setapak dengan kondisi berpasir dan tidak ada saluran pembuangan air dikedua bahu jalannya. Sehingga bila tejadi hujan timbul beberapa genangan air yang kadang - kadang cukup dalam (mencapai 20 cm). Tapi karena jalannya berpasiwr, genangan itu tidak bertahan lama.
       Untuk sumber air bersih penduduk mengambil air bersih dari pancur (mata air) dan sumur. Sejauh ini sumber - sumber air itu dianggap cukup memadai.
Secara garis besar, desa Sekapung merupakan salah satu desa terbaik di wilayah Pulau Sebuku, setelah Sungai Bali dan Rampa.
DESA KANIBUNGAN

Desa yang terletak disebelah utara Desa Sekapung ini merupakan desa yang berpenduduk mayoritas suku Banjar Pahuluan. Merupakan satu dari tiga desa tertua di Pulau ini, dengan topografi antara 0 – 50 m di atas permukaan laut. Kepala desa yang pertama menjabat adalah Pembakal Pugu, lalu dilanjutkan oleh Pembakal Sibli, pembakal H.Basuni bin H.Kadri, pembakal Dahlan, pambakal Embo Dauda, pembakal Hamzah dan pembakal H.Amir bin H.Kadri.
Jika melihat dari salah satu pembakal yang bernama Bugis (Embo Dauda), terlihat bahwa integrasi antara dua suku (Banjar dan Bugis) sudah terjadi sejak tahun 1950-an, atau sebelum itu. Kalaupun terjadi keadaan hubungan yang tidak harmonis antara rentang waktu tahun 1970 – 1980-an, lebih dominan terjadi dikalangan pemuda, sementara ditingkatan usia dewasa/tua, tetap terjalin hubungan yang baik.
Sebagaimana di Desa Sekapung, penduduk asli Desa Kanibungan adalah dari masyarakat Banjar Laut Pulau.
Meskipun sama – sama dari Suku Banjar, antara Banjar Laut Pulau dengan Banjar Pahuluan, ada beberapa perbedaan pola kehidupan. Suku Banjar Pahuluan lebih mirip dengan masyarakat Malayu pada umumnya, dengan agama Islam sebagai agama mayoritas. Sementara Banjar Laut Pulau lebih mirip dengan Suku Dayak dengan agama Islam bercampur Kaharingan sebagai agama mayoritas. Namun demikian perlu kajian lebih lanjut mengenai perbedaan kedua suku ini.
Penduduk dari Banjar Pahuluan yang pertama tinggal di Desa ini, sulit untuk diprediksi. Namun jika melihat bahwa mayoritas penduduk Kanibungan adalah keturunan H.Ismail,maka dapat diasumsikan bahwa orang pertama dari Suku Banjar Pahuluan  yang tinggal di Desa Kanibungan adalah dari orang yang berhubungan nasap dengan H.Ismail. Beberapa anggota masyarakat yang juga berhubungan nasap dengan H.Ismail sebagian sudah merantau keluar (ke Sungai Buah, Seratak, Berangas, Teluk Gosong,Kotabaru, Banjarmasin,Balikpapan atau daerah lainnya). Sementara penduduk yang masih menetap di Desa Kanibungan sebagian besar dari keturunan Hj.Halimah (istri dari H.Kadri) bin H. Ismail.
Penduduk Laut Pulau umumnya tidak terbiasa hidup dalam satu komunitas dengan suku lain. Sehingga mereka biasanya membuat kelompok perumahan tersendiri di kawasan yang agak terpencil. Saat ini sisa – sisa keturunan dari Penduduk Laut Pulau terdapat di lokasi yang bernama Telaga (suatu areal antara Desa Sekapung dan Kanibungan) dan sebagian kecil di antaranya berintegrasi dengan masyarakat Banjar Pahuluan dalam hubungan perkawinan.
H.Amir yang sampai tulisan ini dibuat masih menjabat sebagai Kepala Desa Definitif, adalah kepala desa tertua sekaligus paling lama menjabat, diantara kepala-kepala desa di seluruh Pulau Sebuku. Beliau mula menjabat di tahun 1960 dalam usia sekitar 40 tahun. Jadi sampai tahun 2004, usia beliau sudah mencapai 85 tahun dan telah menjabat sebagai Kepala Desa selama hampir 45 tahun.
Mulanya Desa Kanibungan melingkupi beberapa Dusun antara lain; Bagu Riam, Kanibungan, Sungai Binjai, Gumbil, Pandan, Taluk Takapit, Pantai Buluh, Mandin Libak, Mandin Luar dan Mirih. Terpisah-pisahnya kelompok ini dalam dusun-dusun kecil selaras dengan lokasi-lokasi garapan masing-masing kelompok dan tempat-tempat pinggir sungai yang ideal. Sampai tahun 2004, Desa Kanibungan hanya terdiri atas dua dusun yaitu Bagu (mulanya Sungai Binjai) dan Sungai Alas (penduduk Taluk Takapit yang pindah ke lokasi baru berdampingan di sebelah utara Bagu). Bagu riam yang mulanya ditempati oleh masyarakat suku Bugis, hanya tinggal bekas – bekas perkebunannya yang tersisa, demikian pula Taluk Takapit dan Pantai Buluh. Sementara Mandin Libak,Mandin Luar dan Mirih memisah menjadi satu desa baru. Sungai Alas sempat dimekarkan menjadi desa baru terpisah dengan Kanibungan, dan sempat dipimpin oleh dua periode Kepala desa, yaitu Ahmad Rasidi dan Sahip. Tetapi karena jumlah penduduknya yang sedikit, sungai Alas kemudian digabung kembali dengan Kanibungan diakhir tahun 1990-an      
Desa yang dalam cacah jiwa tahun 1999, berpenduduk mencapai 586  jiwa ini, terbagi dalam dua Rukun Tetangga dengan sebaran penduduk sebagai berikut :
1) RT I   465 Jiwa
2) RT II  121 Jiwa   
Wilayah RT I meliputi daerah Bagu / Kanibungan sedangkan wilayah RT II meliputi daerah Sungai Alas.
Kepadatan Penduduk Desa Kanibungan mencapai 25 jiwa per satu kilimeter perseginya. Angka ini mengindikasikan bahwa
kepadatan penduduk di wilayah Kanibungan, seperti penduduk di Desa lainnya masih dalam katagori kecil.
Migrasi yang terjadi di Kawasan Kanibungan ,mirip dengan yang terjadi di Sekapung yaitu lebih dominan bersifat Migrasi masuk ketimbang keluar. Alasan yang melatarbelakanginyapun sama, yaitu motif ekonomi (mencari pekerjaan). Kalaupun ada perbedaan, maka, di Kanibungan terdapat migrasi keluar atau ke Lokasi baru. Hal ini  terjadi sebelum kehadiran perusahaan dengan motif mencari sumber penghidupan lebih baik ( motif ekonomi), setelah kehadiran perusahaan , migrasi jenis ini nyaris tidak terjadi lagi. Sebagaimana lazimnya Penduduk yang asal usulnya dari Hulu Sungai Kalimantan Selatan, mayoritas penduduknya adalah Petani Karet dan lada atau lebih umum disebut sahang. Dari survey pertama yang dilakukan tercatat jumlah petani mencapai 140  orang atau 35.94% dari jumlah penduduk usia produktif ( usia dewasa ), selebihnya 77  orang (19.54%) sebagai Karyawan Perusahaan, 4 orang (1.01 %) Guru, 5 orang (1.26%) pedagang ,dan selebihnya (42.25%) tidak memiliki mata pencaharian yang tertentu.  Tingginya angka pengangguran ini tidak terlepas dari masih sempitnya cara berfikir dan keinginan untuk meningkatkan taraf hidup melalui usaha yang nyata. Sebagian kecil dari mereka ikut kegiatan orang tuanya. Sehingga angka pengangguran ini masih dalam katagori pengangguran tidak ketara. Angka ketergantungannya mencapai 41 menunjukkan angka minimal pada kelompok ketergantungan yang tinggi,
Jumlah penduduk usia sekolah yang aktif mengikuti pendidikan mencapai 59 siswa  SD atau 37.58% dari 157 jumlah penduduk usia sekolah, 10 siswa SMP (6.36%) dan selebihnya 56.06% adalah tamatan SD atau yang berhenti dari SD yang tidak lagi melanjutkan pendidikannya ke SMP. Penduduk yang tidak pernah mengecap pendidikan sama sekali atau pernah tetapi tidak sampai tamat mencapai 234 orang atau 39.93% dari jumlah penduduk keseluruhan. 
Dari segi kemapaman infrastruktur, Desa Kanibungan masih dibawah Desa Sekapung, dengan jumlah bangunan rumah mencapai 101 buah, jumlah ini belum memadai jika dibandingkan dengan  jumlah Rumah Tangga yang mencapai 162 Keluarga, sehingga masih ada sekitar 61 Keluarga yang belum memiliki Rumah sendiri (menumpang/menyewa) . Kondisi Perumahannyapun relatif kurang baik, sebahagian besar memiliki ventilasi yang
kurang memadai. Fasilitas umum yang ada di daerah ini terdiri atas dua  buah mesjid . Satu di wilayah Bagu dan satu di wilayah Sungai Alas. Selain Dua Mesjid ini sampai tahun 1999 juga terdapat satu bangunan SD, satu rumah bidan, satu pasar tradisional yang sudah kumuh dan tua serta pelabuhan laut yang terletak berdampingan dengan pasar.
Untuk penerangan, mayoritas mempergunakan mesin  generator set. Selebihnya ada yang mempergunakan petromak, lampu teplok/minyak dll.
Hubungan ke desa lain berupa sarana jalan setapak , yang pada musim penghujan sebagian lokasi berlumpur dan licin .  Masyarakat setempat yang akan bepergian ke desa lain umumnya berjalan kaki atau mempergunakan sarana sepeda motor yang jumlahnya masih sangat terbatas.
Sungai yang mengalir di sepanjang desa, menjadi tumpuan utama dalam memenuhi kebutuhan masak, mandi, cuci dan Kakus. Beberapa buah sumur akan menjadi alternative berikutnya jika musim kemarau tiba, karena umumnya sungai akan menjadi kering.
(bersambung . . . .) 
(Sumber : penelitian Apri Siswanto, dengan beberapa tambahan oleh penulis sendiri)